MLM? knapa ga?

Mau posting agak2 serius ah.. sekalian curhat juga sih sebenernya hihihihi.. Ini sambungan dari postingan tentang mba Thia

Rata2 dari setiap orang yang saya tanya, mau gabung dengan bisnis ini ga? Paling banyak menjawab, oo MLM yaa.. ga deh klo MLM mah..

Mungkin karena citra buruk yang melekat pada MLM, atau juga karena para pelaku MLM sendiri yang membuat MLM mempunyai citra buruk, atau mungkin juga karena mantan pelaku yang ga sukses di MLM kemudian rame2 menyalahkan MLM-nya..

Asumsi yang salah ini yang kemudian membuat orang menutup mata dengan bisnis MLM dan menganggap bisnis ini menjual mimpi.. Hey.. bukankah buat sukses orang perlu mimpi.. Tujuan orang berbisnis biasa *bukan MLM* tentunya mengejar mimpinya bukan? Ntah itu pengen punya rumah atau kebebasan financial dan masih punya waktu dengan keluarga. Intinya semua adalah pilihan masing2 individu, mau ikut bisnis yang mana.. Paling ga kita bisa membuka diri terhadap kesempatan yang datang dang a langsung memukul rata dan mencap MLM adalah bisnis yang jelek dan memandang sebelah mata pada pelaku MLM.

Hmm menurut saya, ga ada yang salah dengan bisnis MLM bahkan her world magazine edisi Januari menjadikan MLM hot jobs 2009 di urutan ke 6. Mengapa? Karena pada saat krisis ekonomi seperti ini, pertumbuhan Oriflame *salah satu perusahaan MLM yang ada di Indonesia* 40% dibanding tahun sebelumnya..

Sama seperti bisnis lainnya, sebelum memutuskan untuk memulai bisnis MLM banyak hal yang harus dipertimbangkan..

Ini adalah beberapa diantaranya :

Pastikan MLM yang akan diikuti sudah terdaftar di Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI).

Pelajari sistemnya dengan seksama. MLM yang baik adalah yang mempunyai system yang adil dimana memberikan kesempatan yang sama buat anggotanya untuk maju dan tidak berdasarkan lamanya kita bergabung. Jadi sebagai downline kita punya kesempatan yang sama dengan upline kita untuk maju dan menghasilkan bonus yang lebih besar, tergantung siapa yang bekerja lebih keras, MLM juga tidak memberikan bonus atas keberhasilan kita merekrut anggota baru. Setiap up line sangat berkepentingan dengan meningkatnya kualitas dari para downlinenya, kesuksesan seorang Mitra Usaha dapat terjadi jika downlinenya sukses. Keberhasilan upline ikut ditentukan dari keberhasilan down line. Jangan terjebak dengan sistem piramida atau system lainnya yang hanya menguntungkan orang yang lebih dulu bergabung, alias downline yang kerja, upline yang untung. Seperti juga bisnis konvensional, MLM perlu kerja keras dan proses buat sukses. Ga ada yang kaya dalam waktu semalam, kecual menang undian kali yaa.. Perlu perjuangan dan komitmen untuk berhasil di bisnis apapun itu.

Produk atau layanan yang dijual jelas dan dapat dipertanggungjawabkan

MLM mengadakan training2 rutin untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi anggotanya.

Pak Dwi menjelaskan dengan bahasa yang sederhana tentang MLM ini (nemu webnya Pak Dwi di blognya Lala.. thanks La) ini saya kutip sesuai yang dimuat diwebnya

Dibawah ini adalah obrolan fiksi, isinya rangkuman obrolan saya dengan banyak orang tentang MLM.

Teman : “Dwi. Saya nggak akan pernah ikutan bisnis MLM. Tahu nggak ? Di bisnis MLM itu sangatlah tidak fair. Orang yang lebih dulu masuk, bisa memeras sebanyak mungkin hasil kerja downline-nya. Sementara dia sendiri enak-enakan menerima hasilnya di atas. Downlinenya kerja matian-matian, sementara dia yang di atas lah yang menuai hasilnya. Tidak, saya nggak akan ikutan bisnis kejam seperti itu !”.

Dwi : “Wow..wow..wow…semangat banget sih. Wah. Ini baru luarbiasa. Saya senang ada satu pemikiran kritis tentang bisnis MLM. Yok, kita kupas sama-sama. Kalau memang MLM itu adalah industri yang ilegal dan tidak fair, saya akan keluar meninggalkan bisnis semacam itu. Okey ?. Kita diskusi yah ?”.

Teman : “Boleh aja, siapa takut ?”.

Dwi : “Kita bahas dulu bisnis konvensional yah ?. Nanti kita baru mencari persamaannya dengan bisnis MLM. Begini, katakan saja kamu mau menjadi agen distributor Teh Botol Sosro. Apa yang kamu lakukan ? Tentunya kamu harus punya modal untuk beli beberapa krat Teh Botol buat modal, lalu kamu cari tempat yang bagus. Katakan saja, kamu punya modal Rp 500.000 yang dapat 40 krat Teh Botol. Teh Botol ini kamu ambil di Agen Pusat kota kamu. Lokasi kamu sudah ada, yaitu di terminal Cililitan dan kamu mempekerjakan 2 orang anak remaja untuk mengedarkan Teh Botol.”

Teman : “Sampai disini jelas. Terusin deh”.

Dwi : “Setelah satu minggu, semua Teh Botol kamu habis. Kamu girang karena modal sudah kembali. Kamu sekarang beli lagi 80 Teh Botol dan mempekerjakan 4 orang remaja. Kira-kira ini mungkin nggak ?”

Teman : “Ya mungkin saja. Kenapa tidak ?”.

Dwi : “Apakah disini kamu lihat, bahwa semakin banyak kamu menjual Teh Botol, maka orang di Agen Pusat akan semakin kaya ?. Kamu yang kerja, orang lain yang untung. Kalau bulan depan kamu bisa jual 1000 krat Teh Botol seminggu, mungkin yang jadi Agen Pusat akan beli mobil baru ?. Sama saja khan dengan MLM ? Downline kerja tapi upline juga dapet untung ?. Kenapa di bisnis lain suatu ‘pengambilan untung’ di katakan wajar sementara di bisnis MLM tidak boleh ?”.

Teman : “Kok di bisnis lain juga ada sistem nggak fair sih ? Orang lain kerja, sementara ada yang lainnya ongkang-ongkang kaki mengambil untung”.

Dwi : “Bisnis itu tidak salah !. Itulah yang namanya bisnis distribusi barang. Kalau saya Agen Pusat teh botol, maka saya akan dapat keuntungan dari setiap Teh Botol yang kamu jual. Tapi kamu khan dapat untung juga dari tiap teh botol yang terjual ? Kamu juga enak lho, tidak perlu bikin pabrik Teh Botol dan keluar biaya iklan. Kamu cuma JUALAN teh botol saja !. Memang inilah bisnis distribusi”

Dwi : “Di bisnis MLM juga demikian. Malahan sistem di perusahaan MLM anggota APLI dibuat sedemikian ketat sehingga downline yang dibawah pun bisa menyaingi bonus dan jenjang upline diatasnya. Di Forever Young saya menyaingi jenjang dan bonus upline langsung saya. Sementara bonus saya juga dilampaui downline saya. Ini tergantung siapa yang kerja lebih keras”.

Teman : “Jadi ternyata di MLM, upline belum tentu bonus nya lebih besar dari downline yah ?”.

Dwi : “Benar, asalkan MLM itu adalah anggota APLI (asosiasi penjual langsung indonesia). Di dunia ini banyak aktivitas penggandaan uang dengan kedok sistem MLM. Namanya yang benar adalah skema piramida (Pyramid Scheme), di Malaysia disebut Skema Cepat Kaya. Disini memang upline akan selalu menerima bonus lebih tinggi dibanding downline. Yang ikut beginian cuma orang malas yang mimpi punya gaji besar tanpa kerja. Di MLM sejati kita dibayar untuk menciptakan pasar. Bisnis kita adalah pemasaran langsung dengan merekrut para pemasar (networker) agar produk MLM kita terjual dan ada omzet yang masuk.

Teman : “Bagaimana membedakan MLM asli dan palsu ?”.

Dwi : ” Cara paling aman adalah dengan mengikuti perusahaan MLM anggota APLI yang jumlahnya 33 buah itu. Sebab masyarakat awam tidak mampu membedakan MLM sejati yang
bekerja mendistribusikan produk, dengan MLM palsu yang melakukan arisan uang. MLM yang asli itu uang pendaftarannya murah, sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000, sementara MLM palsu bisa ratusan ribu. Kenapa ? Sebab di MLM asli, bonus
utama kita di dapat dari transaksi produk. Sementara di MLM palsu, uang pendaftaran itulah yang dipakai membayar bonus upline”.

Teman : “OK Dwi. Saya jelas sekarang. Kalau bisnis ini fair dan kerja keras, saya akan mau bergabung. Thanks buat informasinya”.

Dwi : “Sama-sama. Sukses !”.

Comments

  1. MLM ato bukan MLM asalkan menghasilkan duit. Hajaaarrr…

  2. he..he.. sering banget dapet tawaran bisnis kayak gini…tapi sering juga saya menolaknya
    bukanya sombong tapi saya ada pekerjaan lain yg tidak bisa ditinggalkan hanya sekedar ngurusin MLM 🙂

  3. MLM jangan dibilang ‘sekedar’ ah… Banyak kok temen-temen dan kerabat dekat yang kaya raya karena MLM-an, bukan kaya mendadak loh ya… Pake kerja jumpalitan yang pasti. Sayangnya ya… Lahan cari duit gue buka di situ.

    Semangat terus, De! Kalo dah kaya jangan lupa gue :p

  4. MLM kan cuma metode pemasaran, tidak ada yang salah dengan MLM. Kalau ada yang salah mungkin perusahaannya atau distributornya.

    Yang menjadi pertanyaan, kebebasan finansial yang dijanjikan rasanya kudu di tinjau…., khususnya MLM di Indonesia.

  5. MLM dapet citra buruk karena janji2 upline yang bikin orang mimpi terlalu tinggi sebelum berusaha dan akhirnya kecewa. Kalo saya yang penting dapet duit, system fair, ga da yang dirugikan, why not? *saya dah *5 di tiens*

    btw, banner 125×125 di blogku gratis kok, 30 hari. Silahkan kasi url image sama targetnya ke email saya. 🙂

  6. Oya, done edit URL ya mbak. Pantesan gak kedetect feednya hehe..

    Wahh.. postingan yg ini bisa dicontek nih bwt besok-besok! Hihihi..

  7. MLM hanya untuk yg jago nyerocos alias marketing,,,,

  8. selama itu halal kenapa tidak ya mba

  9. Sebenernya klo diliat dari sejarah dan mekanisme kerjanya *halaahhh….* bagus sih

    cma d indonesia para pelakunya kasar

    jadi terkesan, ngakalin down line 😛

Speak Your Mind

*