Archive for the Category »review «

Antara Twilight dan Blood for life

Saya baru aja nonton Twilight.. Iya barusan aja.. Ngaku.. huhuhu ga mungkin nonton di bioskop secara hubby ga suka film drama cicintaan gitu. Jadinya saya nonton nunggu sampe DVDnya release dan minjem dari Netflix.

Wew.. ternyata filmnya bagus yaa.. seneng liat aktingnya Bella dan Edward.. Adegan yang paling saya sukai adalah saat para vampire yang vegetarian (hehehehe istilahnya Edward buat vampire yang ga minum darah manusia) maen baseball saat hujan dan petir. Apalagi diiringi soundtrack dari Muse yang oke banget itu..

Cuman ada hal yang ga pas, diceritain klo keluarga cullen itu selalu ga masuk klo matahari sedang bersinar terang, tapi temen perempuannya Bella – yang diakhir film ketahuan klo termasuk golongan vampire juga – ga pernah absen tuh sekolahnya ga kayak the cullens.

Blood For Life

Trus apa hubungannya Twilight dan Blood for life, sodara2.. hehehehe ini sih bisa2nya saya aja.. Vampire itu kan minumnya darah kan yaa.. dan mereka ga milih2 mau manusia korbannya itu mau golongan darahnya apa. Tapi klo kita manusia, ga bisa kayak vampire. Kita punya golongan darah yang berbeda2, golongan darah tertentu cuman bisa menerima golongan darah tertentu aja. Makanya kadang klo sedang butuh donor darah sangat sulit untuk memperolehnya. Naa, ibu silly ini kemudian menggagas sebuah kegiatan yang bernama Blood for Life sebagai wadah berkumpulnya para pendonor dan penerima donor darah.

Saya berharap di Blood for life, tidak boleh ada pungutan apapun dalam hal ini, baik dari orang-orang yang tergabung untuk menyumbangkan darahnya… maupun dari orang yang menerima sumbangan darah tsb. Wadah ini harus bersifat social, jadi kalaupun ada “dana” yang terlibat, mungkin hanya biaya-biaya administrasi yang saya yakin pasti akan ada sendiri jalannya, entah dari mana datangnya. Silly – Blood for life

Kegiatan ini bermula dari sebuah email dari seorang pemerhati blognya silly. Tentang keprihatinannya mengenai susahnya mendapatkan donor darah.

Buat yang dah biasa donor dan buat yang belum pernah donor yuk gabung di kegiatan ini. Atau yang ga bisa donor darah karena kondisi yang ga memungkinkan, juga boleh gabung kok, siapa tau punya ide2 kreatif yang bisa disumbangkan. Intinya kegiatan ini terbuka untuk siapapun yang ingin bergabung dan memberikan kontribusi positif untuk gerakan ini.

Gimana caranya bergabung?

My Sister's Keeper

Ini adalah buku Jodi Picoult pertama yang saya baca. Dah lama buku ini jadi wish list saya, Alhamdulillah akhirnya kesampean juga (bow)

Sejak pertama kali baca ringkasan cerita di halaman belakang buku ini waktu hunting buku di Gramedia, saya udah narok buku ini di keranjang belanjaan. Tapi setelah mau bayar dan itung2 ternyata buku yang dalam keranjang dan jumlah uang di dompet ga berbanding lurus  (sad) jadinya mau ga mau, ada buku yang harus dikembalikan ke raknya lagi. Maaf ya buku (wink) dan Judi termasuk buku yang saya tarok kembali di raknya. Secara buku lainnya dari pengarang yang sudah biasa saya baca dan saya sukai. Saya termasuk orang yang setia *hayah, ngaku2  (rock) * jadi klo dah suka satu pengarang, pasti klo ada bukunya yang lain, akan saya beli atau minimal pinjem deh *ga modal mode on*

Akhirnya, kemaren waktu ada diskon di Borders, Judi resmi jadi penghuni rak buku saya.. horee (dance)

Intronya kepanjangan kayaknya yaa.. hehehehe gpp yaa..

My Sister’s Keeper bercerita tentang kisah Anna, yang kelahirannya sudah direncanakan untuk menjadi donor ‘bone marrow’ untuk sang kakak, Kate, yang punya ‘acute promyelotic leukimia’. Dengan adanya kemajuan teknologi, kelahiran Anna diharapkan menjadi donor yang cocok untuk Kate. Sungguh mengharukan, bagaimana Anna berfikir bahwa ia lahir dengan tujuan yang jelas, dan jika kasus Kate tidak pernah ada maka ia pun ga akan lahir ke dunia.

Sejak kecil, Anna sudah menjalani bermacam2 operasi untuk kepentingan sang kakak. Puncaknya sewaktu sang kakak membutuhkan ginjal dan saat itu usia Anna 13 tahun. Anna kemudian mendatangi seorang pengacara untuk mewakilinya untuk melawan orang tuanya di persidangan karena ia merasa punya hak atas tubuhnya dan ia tidak ingin mendonorkan ginjalnya pada sang kakak.

Sebagai pembaca buku, kita dibawa hanyut akan konflik keluarga ini. Tidak hanya kasus Anna, tapi juga Jesse, anak paling tua di keluarga ini. Bagaimana ia mencari pelampiasan kurangnya perhatian orang tuanya dengan melakukan hal2 yang tak terpikirkan oleh anak seusianya.

Sejak Kate didiagnosa mempunyai leukimia, orang tua mereka disibukkan dan lebih fokus dengan Kate.

Alasan Anna untuk tidak mau mendonorkan ginjalnya baru terungkap di halaman2 akhir buku. Anna mengungkapkan di persidangan, bahwa alasannya sebenarnya ia melakukan hal ini karena Kate. Kate lah yang meminta Anna untuk tidak mengabulkan permintaan orang tuanya untuk memberikan ginjalnya. Kate lah yang dengan memohon Anna untuk tidak memberikan ginjalnya. Karena Kate sudah capek dengan segala ritual medis dan tidak mau lagi adanya intervensi pada tubuhnya.

Duh, buku ini sukses membuat saya tersedu-sedu saat membacanya :cry: Apalagi di bagian akhirnya, saat Anna meninggal karena tabrakan dan akhirnya mendonorkan ginjalnya pada Kate. Kisahnya di akhiri dengan saat Kate dewasa yang bisa hidup normal kembali setelah transplantasi ginjal dari Anna.

Siap2 deket tissue ya klo baca buku ini… Nangis bombay soalnya.. palagi dah mau bagian akhir.. huhuhuhu.. Jadi pengen baca bukunya Judi Picoult yang lain. Ada yang mau beliin? (angel)

Saya belajar, bahwa kita ga bisa menghakimi seseorang atas tindakan yang dilakukannya. We have to know the reason behind, before we judge them. We have to be in their shoes.

No one starts a war – or rather, no one in his sense ought to do so – with0ut first being clear in his mind what he intends to achieve by that war and how he intends to conduct it – Carl Von Clausewitz

Category: hobby, review  Tags: , ,  39 Comments

Who broke the butterfly upon a wheel?

Quote dari film Shattered niy. Dah pada nonton belum? bagus kok filmnya, bikin saya ga bergeming dari kursi karena penasaran pengen tau gimana kelanjutan dan akhir filmnya.

Ceritanya tentang sebuah keluarga yang harmonis, suami  (Gerard Butler) punya karir bagus, istrinya (Maria Bello) cantik, anak perempuan satu yang gemesin, punya rumah bagus. Sempurna deh hidupnya.

Trus, di suatu akhir pekan, sang suami di undang nginep ke rumah bosnya, sang istri punya acara dengan sahabatnya dan mereka menyewa baby sitter buat ngawasin anaknya di rumah. Dalam perjalanan nganterin istri ke rumah temennya inilah horor dimulai :-D

Jadi dalem mobil mereka ternyata ada sang penjahat (Pierce Brosnan)  yang mengancam akan membunuh anak mereka jika mereka ga mau bekerja sama dan ngikutin maunya sang penjahat.

Pertama, ke bank buat ngambil semua uang yang mereka punya dan ternyata uang tersebut kemudia dibakar ma sang penjahat. Iya dibakar, kebayang kan keselnya pasangan suami istri itu, uang simpanan mereka hilang dalam waktu sekejap.

Kedua, giliran karir sang suami terancam karena sang penjahat minta mereka buat nganterin dokumen yang isinya bisa membahayakan karir sang suami.

Uang ga ada, kerjaan juga bakalan ilang, ga kebayang deh apa jadinya hidup mereka..

Trus gimana kelanjutannya? apa anaknya akhirnya dibebasin? apa lagi yang mereka harus lakukan biar sang penjahat berhenti dan membebaskan mereka dan anaknya..

Seruu.. karena banyak adegan2 yang tak disangka dan tak diduga..

Moral of the story :

Don’t screw with your wife / husband.. :-) Penasaran? nonton aja filmnya. Ntar klo diceritain semua, ga seru lagi nontonnya.. hehehehehehe..

Category: review  Tags: ,  3 Comments

Netflix

Ini bulan kedua saya n hubby hidup disini, tapi masih aja otak ini secara otomatis mengkalkulasi semua yang saya lihat dalam dolar menjadi rupiah. Apalagi sekarang rupiah sedang melemah lagi. Sigh.. jadi apa2 berasa mahal.

Mau nonton bioskop aja harga tiketnya USD 9.5 per orang, kebayang klo nonton berdua sudah menghabiskan USD 19 untuk sekali menonton saja. Sementara dulu di Jakarta dengan uang 50ribu dah bisa nonton berdua.

Mau langganan HBO dkk juga kok ya sayang yaa.. secara waktu yang dihabiskan untuk nonton TV juga ga banyak, jadinya ga rela aja klo harus bayar paket premium sementara ga ditonton juga.
Beli DVD apalagi ga rela banget, di Jakarta bisa beli DVD dengan harga 6rb saja :-D

Akhirnya setelah hunting di internet, nemu Netflix untuk memenuhi hobi dan kebutuhan nonton film baru. Netflix itu sejenis layanan peminjaman DVD gitu. Mereka punya beberapa program, tergantung berapa DVD yang ingin kita pinjam dalam sekali kirim. Ongkos kirim dari dan ke Netflix ditanggung oleh Netflix. Jadi mereka akan kirim DVD sesuai daftar pinjaman kita trus setelah nonton, DVD harus dikirim balik ke Netflix. Netflix tidak akan mengirim DVD baru sebelum kita mengembalikan DVD lamanya. So, banyaknya DVD yang kita pinjam setiap bulan tergantung dari seberapa cepat kita bisa mengembalikan DVD.
Cepet kok ngirimnya, mereka pake fasilitas priority mail, hari ini kirim besok dah sampe. Atau paling lambat 2 hari deh.

Ketersediaan DVDnya juga lengkap dan selalu update.
Sejauh ini saya bisa meminjam 2 DVD seminggu, jadi totalnya 8 DVD sebulan dengan biaya bulanan sebesar USD 9. Lumayan kaan. Oiya saya pakai paket yang 1 DVD sekali pinjam.
Ada free trialnya selama 2 minggu, jadi bisa minjem secara gratis alias ga bayar. Setelah 2 minggu bisa dilanjutkan dengan paket berbayar atau bisa juga tidak dilanjutkan. Asikk kan..

Category: hobby, review  Tags: ,  18 Comments