Kedai 1001 Mimpi

Akhirnya beli juga nih buku :D

Setelah beberapa lama ga bisa baca buku sampe tamat, rekor dipecahkan dengan membaca buku inih..

Lumayan perjalanan Jakarta – Bangkok selama 3 jam di Air Asia yg sepi hiburan, eh adaa.. satu2nya hiburan adalah pramugari mondar mandir bawa makanan.. Hihihi.. Jadi ada hiburan baca buku ini sampe senyum2 sendiri.. Ga berani sampe ngakak sih :p

Ceritanya tentang pengalaman si penulis @vabyo
selama bekerja di Saudi Arabia sebagai barista di sebuah kedai kopi. Emang cita2nya mau kerja di SA dan akhirnya kesampean itu sesuatu banget yaa..

Diceritain dengan gaya bahasa yang lucu dan ga bosenin.. Cerita sedihpun bisa bikin gw ngakak :D *maaf yaa @vabyo

Pokoknya lucu! Perjalanan pulang, buku berpindah tangan ke suamih qiqiqi

Buat yang ga open mind, jangan baca buku ini yaa.. Bahaya loh :D

Okeh.. ga mau cerita banyak2, baca aja sendiri yaa.. Ntar ga lucu lagi kalo diceritain soalnyah

 

The year of fog

Seperti biasa, setiap ke toko buku saya berbekal kupon diskon dan kali ini lumayan kupon diskonnya 30% untuk pembelian 1 buah buku di Borders. Tadinya mau beli bukunya Jodi Picoult lagi, tetapi begitu di depan pintu masuk ada buku2 best seller dan salah satunya ‘The year of fog’ yang ditulis oleh Michelle Richmond. Membaca sinopsis di belakang buku, saya langsung memutuskan untuk membeli buku ini. Tetapi kayaknya kok kurang sreg tanpa keliling2 dulu yaa.. hehehehe..

Hubby seperti biasa dah langsung menuju bagian majalah dan duduk manis di pojokan dekat ‘coffee shop’. Oiya, dari 2 buah toko buku yang sering saya kunjungi (Borders dan Barnes & Nobles), selalu ada coffee shop di dalam toko. Jadi, pengunjung bisa baca buku sambil menyesap kopi di tempat duduk yang disesiakn. Bukunya ga mesti beli dulu loo.. Enak kan.. jadi bisa baca2 tanpa membeli (wink)

Eh, mau cerita tentang buku atau toko buku sih sebenernya hehehehe.. Kempbali ke topik semula tentang buku yang saya beli ini yaa..

Ceritanya tentang Abby seorang fotografer yang segera akan menikah dengan tunangannya – Jake. Jake mempunyai seorang anak perempuan anak perempuan bernama Emma. Life is just so perfect for Abby. Hingga pada suatu siang ketika Abby mengajak  Emma bermain ke tepi pantai, something happened in a split second that changes her life forever. Cuman karena keasikan memotret burung camar yang mati di tepi pantai, Abby ga memperhatikan Emma yang menjauh dan kemudian menghilang dari pandangan matanya. Terlambat menyadarinya, Emma dah menghilang di telan kabut.

Sejak saat itu, hidup Abby berubah. Setiap hari hanya punya 1 tujuan yaitu menemukan kembali Emma. Bahkan ketika Jake sang ayah memutuskan untuk menyerah setelah 9 bulan berlalu, Abby tetap yakin bahwa Emma masih hidup dan menunggu untuk diselamatkan. Hilangnya Emma juga menyebabkan retaknya hubungan Jake dan Abby. Seiring bertambahnya hari sejak hilangnya Emma, semakin memperjauh jarak antara keduanya.

Membaca buku ini membuat saya larut dalam tulisan penulisnya, begitu deskriptif sehingga saya bisa membayangkan sosok Emma, Jake, Abby dan hubungan yang terjalin antara ketiganya. Pengen cepet selesai, karena pengen tahu akhirnya apakah Emma bisa ditemukan atau tidak dan kelanjutan hubungan Abby dan Jake.

Bagaimana perjuangan Abby untuk berusaha mengingat semua detail saat2 sebelum menghilangnya Abby dalam upaya  menemukan petunjuk tentang hilangnya Emma, dari mulai membayangkan kembali, datang setiap hari ke pantai, dan menggunakan cara hipnotis.

Abby akhirnya menemukan Emma setelah hampir satu tahun melakukan pencarian. Tetapi hubungannya dengan Jake dah terlanjur rusak. Happy ending dengan ditemukannya Emma, tetapi sad ending dengan berakhirnya hubungan Jake dan Abby.

Ada banyak hal tentang memori dan fotografi. Tentang sifat alami manusia yang ingin mengabadikan setiap momen bersejarah dalam hidupnya dengan fotografi. It is a good book, indeed.

Note : Gambari diambil dari sini

My Sister's Keeper

Ini adalah buku Jodi Picoult pertama yang saya baca. Dah lama buku ini jadi wish list saya, Alhamdulillah akhirnya kesampean juga (bow)

Sejak pertama kali baca ringkasan cerita di halaman belakang buku ini waktu hunting buku di Gramedia, saya udah narok buku ini di keranjang belanjaan. Tapi setelah mau bayar dan itung2 ternyata buku yang dalam keranjang dan jumlah uang di dompet ga berbanding lurus  (sad) jadinya mau ga mau, ada buku yang harus dikembalikan ke raknya lagi. Maaf ya buku (wink) dan Judi termasuk buku yang saya tarok kembali di raknya. Secara buku lainnya dari pengarang yang sudah biasa saya baca dan saya sukai. Saya termasuk orang yang setia *hayah, ngaku2  (rock) * jadi klo dah suka satu pengarang, pasti klo ada bukunya yang lain, akan saya beli atau minimal pinjem deh *ga modal mode on*

Akhirnya, kemaren waktu ada diskon di Borders, Judi resmi jadi penghuni rak buku saya.. horee (dance)

Intronya kepanjangan kayaknya yaa.. hehehehe gpp yaa..

My Sister’s Keeper bercerita tentang kisah Anna, yang kelahirannya sudah direncanakan untuk menjadi donor ‘bone marrow’ untuk sang kakak, Kate, yang punya ‘acute promyelotic leukimia’. Dengan adanya kemajuan teknologi, kelahiran Anna diharapkan menjadi donor yang cocok untuk Kate. Sungguh mengharukan, bagaimana Anna berfikir bahwa ia lahir dengan tujuan yang jelas, dan jika kasus Kate tidak pernah ada maka ia pun ga akan lahir ke dunia.

Sejak kecil, Anna sudah menjalani bermacam2 operasi untuk kepentingan sang kakak. Puncaknya sewaktu sang kakak membutuhkan ginjal dan saat itu usia Anna 13 tahun. Anna kemudian mendatangi seorang pengacara untuk mewakilinya untuk melawan orang tuanya di persidangan karena ia merasa punya hak atas tubuhnya dan ia tidak ingin mendonorkan ginjalnya pada sang kakak.

Sebagai pembaca buku, kita dibawa hanyut akan konflik keluarga ini. Tidak hanya kasus Anna, tapi juga Jesse, anak paling tua di keluarga ini. Bagaimana ia mencari pelampiasan kurangnya perhatian orang tuanya dengan melakukan hal2 yang tak terpikirkan oleh anak seusianya.

Sejak Kate didiagnosa mempunyai leukimia, orang tua mereka disibukkan dan lebih fokus dengan Kate.

Alasan Anna untuk tidak mau mendonorkan ginjalnya baru terungkap di halaman2 akhir buku. Anna mengungkapkan di persidangan, bahwa alasannya sebenarnya ia melakukan hal ini karena Kate. Kate lah yang meminta Anna untuk tidak mengabulkan permintaan orang tuanya untuk memberikan ginjalnya. Kate lah yang dengan memohon Anna untuk tidak memberikan ginjalnya. Karena Kate sudah capek dengan segala ritual medis dan tidak mau lagi adanya intervensi pada tubuhnya.

Duh, buku ini sukses membuat saya tersedu-sedu saat membacanya :cry: Apalagi di bagian akhirnya, saat Anna meninggal karena tabrakan dan akhirnya mendonorkan ginjalnya pada Kate. Kisahnya di akhiri dengan saat Kate dewasa yang bisa hidup normal kembali setelah transplantasi ginjal dari Anna.

Siap2 deket tissue ya klo baca buku ini… Nangis bombay soalnya.. palagi dah mau bagian akhir.. huhuhuhu.. Jadi pengen baca bukunya Judi Picoult yang lain. Ada yang mau beliin? (angel)

Saya belajar, bahwa kita ga bisa menghakimi seseorang atas tindakan yang dilakukannya. We have to know the reason behind, before we judge them. We have to be in their shoes.

No one starts a war – or rather, no one in his sense ought to do so – with0ut first being clear in his mind what he intends to achieve by that war and how he intends to conduct it – Carl Von Clausewitz

Kebiasaan buruk

Saya punya kebiasaan buruk, ga bisa menolak keinginan buat belanja buku. Makanya suka menghindari toko buku atau buka web toko buku online disaat ga punya uang :-)

Toko buku yang paling deket rumah dan yang paling sering saya kunjungi adalah Borders. Paling seneng ke sana soalnya ada bagian buku2 sale / bargain books alias buku2 dengan harga diskon gila2an. Dan biasanya yang ditarok di situ adalah buku2 hard cover. Kebayangkan harganya buku hardcover gitu paling murah nih harga normalnya adalah USD 25. Tapi klo dah ditarok di rak Bargain Books, harganya bisa cuman USD 5 doang!!  Duh udah cuman masih pake doang hehehehehehe :-D

Makanya saya suka kalap klo dah ke sana hehehehehe.. kapan lagi coba beli buku hardcover klo ga lagi sale begitu.. Ga tau juga knapa di sale gitu yaa.. Padahal bukunya sih masih bagus trus buku2nya juga termasuk yang best seller gitu.

Klo ga dibeli, takutnya ntar klo ke sana lagi dah ga ada. Kalo beli, di rumah masih banyak buku yang lum dibaca. Biasanya sih, saya ga sukses menahan keinginan buat belanja sigh.

Kemaren, gara2 kebiasaan buruk ini, saya kena batunya :-(

Jadi, waktu ke Borders dan seperti biasa langsung ke bagian Bargain Books. Sukses menenteng 2 buku pulang ke rumah. Waktu mau masukin tuh buku ke rak buku, saya mpe kaget banget ngeliat buku dengan judul yang sama dah bertengger dengan manis di rak buku saya itu!! Hah.. Ternyata saya dah beli buku itu n lupa karena lum sempet dibaca!!..Sempek panik dan nyesel banget.. Ya Allah, ampuni hambamu ini :-(

Hhhhmmppphh.. inhale.. exhale.. setelah agak tenang, saya trus inget klo disini tuh biasa banget klo beli sesuatu trus kemudian dibalikin lagi ke tokonya. Selama nota pembeliannya masih ada dan ga lebih dari 30 hari. Alhamdulillah, notanya blum dibuang dan setelah dibaca di nota ternyata memang bisa dikembalikan selama nota masih ada dan ga lebih dari 30 hari sejak buku dibeli dan buku masih dalam keadaan baik tentunya.. Ppffiuh.. leganya saya :-D

Akhirnya tu buku sukses dikembalikan lagi ke tokonya dan saya dengan sukses membeli buku lain sebagai penggantinya.. hehehehehe.. ga kapok2 yaa.. :-D

Book of the week

Gramedia Depok diskon 20% for all books item.. for a whole month of May.. asikk kan..

Jadinya gw beli buku lagi deh ;-)

Minggu ini buku yang dah selesai dibaca

Very recommended book for improving the quality of our life!!

Dengan pertolongan Tuhan aku yakin bisa meraih apapun yang aku inginkan. Aku izinkan diriku untuk berhasil. Aku izinkan diriku untuk berubah. Aku izinkan nasibku untuk terus membaik. Saat ini dan selamanya aku selalu mengizinkan semua yang aku inginkan untuk hadir di dalam hidupku dengan mudah dan menyenangkan. Terima kasih ya Tuhanku.
Quantum Ikhlas – Erbe Sentanu

Selama ini gw selalu berusaha untuk berfikir positif tapi ternyata berfikir positif saja tidak cukup. Kita juga harus bisa merasa positif dan menyelaraskan antara fikiran positif dan perasaan positif.

ringan, enak dibaca, membuat tetesan air mata almost at the end of the book (melow mode on)

tapi tetep happy ending kok ;-)